
José Ramos-Horta terpilih sebagai Presiden Timor Leste untuk masa jabatan kedua, pada 20 Mei 2022. (Ramoshorta.com)
JawaPos.com - José Ramos-Horta merupakan seorang aktivis politik dan tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Timor Leste. Bersama Uskup Carlos FX Belo, ia menerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun 1996 atas dedikasinya dalam memperjuangkan perdamaian dan kemerdekaan bagi rakyat Timor Leste.
Dilansir dari Britannica, Timor Leste merupakan bekas jajahan Portugis dan berada di bawah kendali Indonesia sejak tahun 1975 hingga 1999. Ramos-Horta menjabat sebagai Perdana Menteri Timor Leste pada 2006-2007, serta Presiden periode 2007-2012. Kemudian, ia pun terpilih untuk masa jabatan kedua pada 2022, dan masih menjabat sebagai Presiden hingga saat ini.
Menurut laman resmi Presidência República Timor Leste, sebelum dikenal sebagai penerima Nobel Perdamaian, Ramos-Horta telah lama dikenal di dunia internasional sebagai pejuang gigih bagi rakyat Timor Leste (yang kala itu dikenal sebagai Timor Timur). Ia dikenal sebagai diplomat ulung, negosiator, dan juru damai yang memiliki keterampilan luar biasa. Selama hampir tiga dekade hidup dalam pengasingan, Ramos-Horta menjadi suara global bagi rakyat Timor Leste.
Timor Leste, sebuah pulau kecil dan bekas koloni Portugis di ujung kepulauan Indonesia, mengalami masa kelam selama invasi dan pendudukan Indonesia. Selama 24 tahun pendudukan, sepertiga penduduk Timor Leste kehilangan nyawa. Dalam masa pengasingan, Ramos-Horta berkeliling dunia membangun jaringan hak asasi manusia untuk membela hak-hak bangsanya.
Dilansir dari Nobel Prize, alih-alih mengangkat senjata, ia memilih berjuang melalui diplomasi internasional. Setelah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri FRETILIN (Front Revolusioner untuk Timor Timur yang Merdeka), ia meninggalkan tanah airnya untuk memperjuangkan hak rakyat Timor Leste di berbagai forum dunia, terutama di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia aktif menyuarakan penderitaan rakyat Timor Leste di markas besar PBB, berpidato di Dewan Keamanan, dan berjuang agar dunia tidak melupakan tragedi yang menimpa negaranya.
Pada pertengahan 1980-an, ia mulai mendorong terwujudnya dialog damai dengan Indonesia, dan pada tahun 1992 ia mengajukan rencana perdamaian yang konkret. Rencana tersebut mencakup kerja sama kemanusiaan, serta peningkatan kehadiran internasional yang dipimpin oleh PBB. Tujuannya adalah menciptakan landasan bagi penarikan pasukan Indonesia dan pelaksanaan hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat Timor Leste.
Kedua tujuan perdamaian ini akhirnya tercapai pada tahun 2001. Berkat kegigihannya, sebelumnya pada tahun 1996, Ramos-Horta, bersama dengan Uskup Timor Carlos Ximenes Belo dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian.
Dilansir dari Presidência República Timor Leste, pada tahun 2006 Timor Leste yang masih berusia muda sebagai negara demokrasi kembali dilanda gejolak kekerasan internal. Sekitar 500 anggota militer memisahkan diri, menyebabkan kekacauan di jalan-jalan dan membuat Perdana Menteri saat itu mundur dari jabatannya. Dalam situasi kritis itu, Ramos-Horta yang saat itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dan Menteri Senior diminta untuk menjadi Perdana Menteri.
Setahun kemudian, pada Mei 2007, Ramos-Horta resmi terpilih sebagai Presiden Timor Leste. Dalam pidato pelantikannya, ia berjanji untuk menjadi “Presiden bagi rakyat miskin” dan berkomitmen menanggulangi kemiskinan melalui peningkatan layanan kesehatan, pendidikan publik, serta penciptaan iklim ekonomi yang mendukung perkembangan usaha kecil.
Sebagai Presiden, Ramos-Horta dikenal karena inisiatif perdamaian kreatifnya. Ia meluncurkan berbagai program sosial, seperti lomba sepeda gunung kelas dunia bertajuk “Race for Peace” dan membuka kantornya bagi para pemuda dari berbagai daerah untuk berdialog dan menyelesaikan konflik secara damai. Selain itu, ia menggagas program anti-kemiskinan yang berhasil membantu puluhan ribu warga keluar dari kemiskinan ekstrem melalui pembangunan rumah layak huni dan peningkatan akses terhadap kebutuhan dasar.
Kepemimpinan dan dedikasi Ramos-Horta membawa Timor Leste menuju era baru perdamaian, rekonsiliasi, dan pertumbuhan ekonomi. Setelah lebih dari satu dekade, pada 20 Mei 2022, Ramos-Horta kembali terpilih sebagai Presiden Timor Leste untuk masa jabatan keduanya dan hingga kini masih menjabat, melanjutkan perjuangan panjangnya demi kesejahteraan dan kemajuan rakyatnya. (*)
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
