Logo JawaPos
Author avatar - Image
16 Desember 2025, 22.32 WIB

Sepanjang 2025: Terjadi 2.182 Kasus Kekerasan di Jakarta, 'Psikis' dan Bullying Paling Mendominasi

Kepala Dinas PPAPP Provinsi DKI Jakarta Iin Mutmainnah. (Ryandi Zahdomo/JawaPos) - Image

Kepala Dinas PPAPP Provinsi DKI Jakarta Iin Mutmainnah. (Ryandi Zahdomo/JawaPos)

JawaPos.com – Angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di DKI Jakarta mencatatkan tren kenaikan sepanjang tahun 2025.

Hingga pertengahan Desember ini, ribuan laporan masuk ke Unit Pelaksana Teknis Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA). Menariknya, bukan kekerasan fisik yang mendominasi, melainkan kekerasan psikis.

Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Provinsi DKI Jakarta Iin Mutmainnah membeberkan data terbaru sekaligus alasan di balik melonjaknya angka pelaporan tersebut.

Berdasarkan data hingga 19 Desember 2025, tercatat ada 2.182 klien yang mengadu. Dari jumlah tersebut, kekerasan psikis menempati urutan teratas, disusul oleh kekerasan seksual dan fisik.

Kasus bullying atau perundungan yang marak terjadi di sekolah juga masuk dalam kategori psikis ini.

"Jadi jumlah pengaduan dari data yang dimiliki oleh kami dari UPT-PPA, ini secara umum jenis kekerasan terbanyak, ini memang kekerasan psikis sebanyak 1.059, kemudian kekerasan seksual 902, kekerasan fisik 895, eksploitasi 109, penelantaran 72, dan data masih dalam konfirmasi adalah sebanyak 9 kasus," ujar Iin Mutmainnah usai Talkshow Stop Bullying dan Kekerasan Melalui Ketahanan Keluarga untuk Mewujudkan Generasi Emas 2045, Selasa (26/12).

Iin menjelaskan, bullying dikategorikan sebagai serangan verbal yang berdampak pada mental korban.

"Ini kita masukkan dalam kategori psikis salah satunya, jadi bagian dari kekerasan psikis yang menyerang secara verbal, menyerang secara psikis terhadap seorang anak, ataupun siapapun yang mengalami kasus bullying itu," tambahnya.

Fenomena 'Speak Up': Kabar Baik atau Buruk?

Kenaikan angka kasus di tahun 2025 dibanding 2024 ini memunculkan pertanyaan besar: apakah Jakarta semakin tidak aman, atau kesadaran warga yang meningkat?

Menurut Iin, tingginya angka laporan justru menjadi indikator positif dari keberanian warga Jakarta.

"Kenapa tinggi? Satu hal, warga kita semakin berani speak up, semakin banyak dia berani untuk menyatakan atau mengadu kepada kanal yang disiapkan oleh pemerintah," jelas Iin.

Ia menambahkan bahwa masyarakat kini semakin paham akan hak, kewajiban, dan cara menjaga diri. Namun, di sisi lain, ini menjadi 'alarm' bagi pemerintah untuk memperkuat mitigasi.

"Jadi menurut saya ini hal yang positif, kalau dinilai dari sisi jumlah yang kenapa banyak secara positif. Tapi secara negatifnya tentu kita melihat ini adalah kepedulian di lingkungan. Kita perlu kita tingkatkan, kan seperti itu. Jadi mitigasi resiko perlu kita kuatkan," tegasnya.

Jakarta Timur Tertinggi, Perempuan Dewasa Paling Rentan

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore