Logo JawaPos
Author avatar - Image
10 Desember 2025, 22.23 WIB

Bencana Belum Usai, Warga Mentawai Resah Kapal Tongkang Pengangkut Kayu Gelondongan kembali Beraktivitas

Penampakan kapal tongkang pengangkut kayu gelondongan di wilayah Kepulauan Mentawai, Sumbar. (Dokumentasi Jhon Sibarani)

JawaPos.com - Seorang warga Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar) bernama Jhon Sibarani merasa resah dengan aktivitas kapal tongkang pengangkut kayu gelondongan. Keresahan itu dia sampaikan lantaran saat ini penanganan bencana alam yang memakan banyak korban di Sumbar masih berlangsung, namun sudah ada pergerakan kapal-kapal pengangkut kayu gelondongan. 

Jhon menilai aktivitas kapal pengangkut kayu gelondongan itu janggal. Apalagi di lokasi terdampak bencana juga ditemukan banyak kayu gelondongan yang diduga berasal dari aktivitas ilegal. Saat dihubungi pada Rabu (10/12), Jhon menyampaikan bahwa dia melihat langsung aktivitas kapal tongkang pengangkut kayu gelondongan itu dalam perjalanan dari Padang menuju Siberut Selatan pada Selasa (9/12). 

"Kemarin saya berlayar menumpangi kapal Mentawai Fast tujuan Siberut Selatan, yang mana kapal tersebut rutenya Padang-Sikabaluan-Siberut Selatan. Kapal berangkat dari Padang pukul 07.00 WIB, sampai di pelabuhan Sikabaluan pada pukul 11.00. Ketika mendekati pelabuhan Sikabaluan kelihatan ada kapal tongkang bermuatan kayu gelondongan yang parkir di sekitar pelabuhan Sikabaluan," ujarnya.

Dia mengakui dirinya memang bukan warga Sikabaluan, melainkan warga dari Siberut Selatan. Boleh jadi, bagi warga Sikabaluan pemandangan itu sudah biasa saja. Namun baginya, pemandangan itu aneh dan janggal. Setelah mencoba menggali informasi, lanjutnya, diduga kayu gelondongan yang diangkut menggunakan kapal tongkang itu berasal dari Dusun Tiniti, Desa Sigapokna, Kecamatan Siberut Utara. 

"Menurut info yang saya himpun dari masyarakat Sikabaluan, kayu tersebut asalnya dari Dusun Tiniti, Desa Sigapokna, Kecamatan Siberut Utara," imbuhnya. 

Menurut Jhon, kayu-kayu itu diduga berasal dari aktivitas ilegal di Dusun Tiniti. Dia bahkan menyampaikan bahwa sebelum bencana banjir bandang dan longsor melanda Sumbar, aktivis mahasiswa dari Mentawai sudah berulang melakukan aksi demo di Kantor Gubernur Sumbar terkait dengan dugaan aktivitas ilegal yang merugikan lingkungan tersebut. Sayangnya, suara-suara dari aktivis mahasiswa itu tidak didengar.

"Sebetulnya, jauh sebelum adanya bencana banjir ini, mahasiswa Mentawai sudah sering melakukan demonstrasi di kantor gubernur Sumbar. Namun apa daya, seperti tidak digubris sama sekali," imbuhnya. 

Saat ini, Bareskrim Polri bersama Kementerian Kehutanan (Kemenhut) tengah menggali dan menelusuri informasi berkaitan dengan dugaan aktivitas ilegal di Sumbar, Sumut, dan Aceh. Beberapa temuan sudah disampaikan oleh polisi. Diantaranya temuan kayu gelondongan yang berasal dari hasil gergaji mesin atau penebangan pohon secara sengaja. 

Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri Brigjen Pol Mohammad Irhamni menyampaikan bahwa pihaknya sudah menelusuri Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga, Tapanuli Utara, Sumatera Utara (Sumut). Pemeriksaan saksi-saksi sudah dilakukan. Posko juga sudah berdiri tidak jauh dari DAS Garoga. Dari lokasi itu, pihaknya mengamankan 27 sampel kayu. 

"Di sekitar TKP itu, 27 sampel kayu telah diambil, police line terpasang, dan dua jembatan telah diperiksa," kata dia dalam keterangan resmi.

Brigjen Irhamni menyampaikan bahwa barang bukti kayu sudah disisihkan, dispesifikasikan, dan dikategorikan oleh ahli. Berdasar informasi yang diperoleh aparat kepolisian, sebagian besar kayu berjenis karet, ketapang, durian, dan kayu lainnya. Dari hasil identifikasi, polisi menemukan beberapa temuan yang mencurigakan.

"Identifikasi kayu menunjukkan beberapa kategori, kayu hasil gergajian, kayu yang dicabut bersama akar (menggunakan alat berat), kayu hasil longsor, kayu hasil pengangkutan loader," jelasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore